Sabtu, 04 Juli 2015



AKIDAH ISLAM
       sesungguhnya dasar yang dijadikan pijakan masyarakat islam dan yang diembannya adalah akidah,yaitu akidah islam.tugas pertama masyarakat islam adalah menjaga akidah ini,merawat,memantapkan dan memancarkan cahanya diseluruh cakrawala.
      Akidah islam terwujud dalam bentuk keimanan kepada Allah,malaikat-malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya dan hari akhir,Rasulullah telah beriman kepada al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya dari rabb-nya,demikian pula orang-orang yang beriman.semuanya beriman kepada Allah.(mereka mengatakan,”kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun, (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya” dan mereka mengatakan,”kami dengar dari kami taat”.(mereka berdoa)”ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kami kembali” (Al-baqarah :285).
       Ia adalah akidah yang membangun (kontruktif) dan tidak menghancurkan (destruktif),menggalang dan tidak menceraiberaikan,karena ia berdiri di atas warisan (peniggalan)semua risalah ilahi dan di atas keimanan kepada semua Rasul Allah.akidah ini memiliki lambang yang menyimpulkannya atau menjadi simbol yang mengungkapka tentangnya,yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah “(kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang haq kecuali Allah dan kesaksian bahwa Muahammad adalah utusan/rasul Allah).akidah inilah yang mewakili pandangan dan persepsi umat islam tentang alam dan Rabb pemilik alam,tentang fisik dan metafisik,tentang kehidupan dan apa yang terjadi setelah kematian,tentang alam nyata dan alam gaib.dengan kata lain,tentang makhluk dan khalik,tentang dunia dan akhirat dan tentang alam nyata dan alam gaib.
       Alam ini dengan bumi dan langitnya,dengan benda mati dan tumbuhan-nya,dengan hewan dan manusianya,dengan jin dan malaikatnya.alam ini tidak  tercipta secara kebetulan begitu saja dan tidak pula ia menciptakan dirinya mandiri.oleh karena itu harus ada untuknya Sang pencipta Yang Maha Mengetahui,Yang Maha Kuasa,Perkasa dan Bijaksana,yang telah menciptakannya lalumenyempurnakannya dan telah menentukan segala sesuatu dengan ukuran.setiap atom yang ada padanya disertai timbangan,setiap gerak padanya disertai ukuran dan perhitungan.Sang Khalik itu adalah Allah,yang setiap kata,bahkan huruf dalam kitab (ayat-ayat) kauniah (alam) menunjukan kepada kehendak dan kekuasaan Nya,membuktikan ilmu dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya,”langit yang tujuh,bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah,dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya.”(Al-Isra’:44).
     Allah,Zat Yang Maha Mutlak itu,menurut ajaran islam,adalah Tuhan Yang Maha Esa.segalah sesuatu mengenai Tuhan disebut ketuhanan.Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar Negara Republik Indonesia.menurut pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.menurut Hazairin (seperti sudah disebut juga di depan)(Hazairin,1970 : 58),istilah Ketuhanan Yang Maha Esa diciptakan oleh otak,pengertian dan iman orang islam indonesia,sebagai terjemahan kata-kata yang terhimpun dalam Allahu al wahidu-I-ahad (baca : Allahu alwahidul ahad) yang berasal dari al-Qur’an surah al-Baqarah (2) : 163 dan surah al-ikhlas (112) : 1. Alwahidu-I-ahad itulah yang diterjemahkan dengan Yang Maha Esa,yang sebelum tahun 1945 (perkataan itu) tidakl ada dalam bahasa indonesia.

     

      A.KEYAKINAN KEPADA ALLAH
       Sang Khalik Yang Maha Tinggi ini adalah Rabb langit dan bumi,Rabb semesta alam,Rabb segala sesuatu,Yang Tunggal dan Maha Esa,serta tidak ada sekutu bagi-Nya dalam zat,sifat-sifat dan pembuatan-Nya.Dia sendirilah Yang Maha Awal azali dan Yang Maha Kekal Abadi,Dia sendirilah Sang Pencipta,Perancang dan Pembentuk.Bagi Allah nama-nama baik (asma’ul husna),sifat-sifat yang tinggi (shifat ‘ula),tidak ada seteru dan tidak ada lawan bagi-Nya,tidak ada anak dan tidak ada orang tua bagi-Nya,tidak ada yang menyerupai dan menyamai diriNya.”katakanlah,’Dia-lah Allah Yang Maha Esa,Allah adalah Rabb yang bergantung kepadaNya segala sesuatu,Dia tidak beranak dan tidak diperanakan,dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”(AL-Ikhlash :1-4).
     Menurut akidah islam,konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut tauhid.ilmunya adalah ilmu tauhid.ilmubtauhid adalah ilmu tentang Kemahaesaan Tuhan (Osman Raliby,1980 : 8).menurut Osman Raliby ajaran islam tentang Kemahaesaan Tuhan adalah sbb : Allah Maha Esa Dalam Zat-Nya serta Allah Maha Esa dalam sifat-sifatNya.
      Kemaha Esaan Allah dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa Zat Allah tidak sama dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga.Dia Unique (unik : lain dari semuanya),berbeda dalam segala-galanya.Zat Tuhan yang unik atau Yang Maha Esa itu bukanlah materi yang terdiri dari beberapa unsur bersusun.ia tidak dapat disamakan atau di bandingkan dengan benda apa pun yang kita kenal,yang menurut ilmu fisika terjadi dari susunan atom,molekul dan unsur-unsur berbentuk yang takluk kepada ruang dan waktu yang dapat di tangkap oleh panca indera manusia,yang dapat hancur musnah dan lenyap pada suatu masa.
        Keyakinan kepada Zat Allah Yang Maha Esa seperti itu mempunyai konsekuensi.konsekuensinya adalah bagi bagi umat islam yang mempunyai akidah demikian,setiap atau segala sesuatu yang dapat di tangkap oleh pancaindera mempunyai bentuk tertentu,tunduk pada ruang dan waktu,hidup memerlukan makanan dan minuman seperti manusia biasa,mengalami sakit dan mati,lenyap dan musnah,bagi seorang muslim bukanlah Allah,Tuhan Yang Maha Esa.
      Kemaha Esaan Allah dalam sifat-sifatNya ini mempunyai arti bahwa sifat-sifat Allah penuh keutamaan dan kesempurnaan,tidak ada yang menyamaiNya.sifat-sifat Allah itu banyak dan tidak dapat diperkirakan.namun demikian,dari al-Qur’an dapat diketahui (99) nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan al-asma’ul husna : (99) nama Allah yang indah.di dalam lmu tauhid,dijelaskan 20 sifat Tuhan,yang disebut dengan sifat dua puluh,yaiut : 1.ada,2,azal,tidak ada permulaanNya. 3.kekal,abadi tidak berkesudahaan 4.berbeda dengan segala ciptaanNya 5.berdiri sendiri 6.Maha Esa 7.berkuasa,Maha Kuasa 8.Berkehendak 9.Maha Mengetahui  10.Hidup 11.Maha Mendengar 12.Maha Melihat 13.Maha Berkata-kata 14.dalam keadaan Berkuasa  15.dalam berkeadaan Berkemauan 16.dalam berkeadaan Berpengetahuan 17.dalam keadaan Hidup 18.dalam keadaan Mendengar 19.dalam keadaan melihat 20.dalam berkeadaan Berkata-kata.
Segala sesuatu yang ada di alam luas ini,yang ada di atas dan dibawahnya serta makhluk-makhluknya yang dian dengan yang berbicara,menunjukan bahwa hanya satu akal yang mengatur seluk-beluknya,satu tangan yang mengatur rotasi perputarannya dan yang mengarahkan sisi ujung pangkal dalam pergerakan dinamikanya,kalau tidak demikian,niscaya akan kacau sistemnya,hilang kendalinya goncang keseimbangannya dan hancurlah struktur bangunannya karena akibat dari konsekuensi logis dari perbedaan berbagai akal kontradiktif (bertentangan) yang mengarahkannya  dan perbedaan berbagai tangan yang menggerakannya.

B.KEYAKINAN PADA PARA MALAIKAT
      Malaikat adalah makhluk gaib,tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia,akan tetapi dengan izin Allah,malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia,seperti malaikat jibril menjadi manusia di hadapan maryam,ibu Isa almasih (Q.s. Maryam (19) : 16-17) misalnya.mereka diciptakan Tuhan dari cahaya dengan sifat atau pembaawaan antara lain, 1).selalu taat dan patuh kepada Allah. 2).senantiasa membenarkan dan melaksanakan perintah Allah,para malaikat mempunyai sifat tertentu (a) di alam gaib dan (b) di alam dunia.tugas malaikat di dunia antara lain :menyampaikan wahyu Allah kepada manusia melalui para Rasul-Nya.mengukuhkan hati orang-orang yang beriman,memberi pertolongan kepada manusia,membantu perkembangan rohani manusia,mendorog manusia unutk berbuat baik, dan mencatan perbuatan manusia,juga melaksanakan hukuman Allah.
      Manusia wajib meyakini adanya makhluk yang bertugas untuk menumbuhkan dan mengembangkan rohaninya.kewajiban untuk percaya kepada malaikat dinyatakan dengan tegas oleh Allah dalam firman-Nya di dalam al-Qur’an surah al-baqarah (2) ayat 177 yang artinya “sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,hari kemudian,malaikat-malaikat...”
       Beriman kepada para malaikat mempunyai konsekuensi terhadap seorang muslim.konsekuensinya seorang muslim harus meyakini adanya kehidupan rohani yang harus dikembangkan sesuai dengan dorongan para malaikat itu.menurut ajaran islam,setiap manusia memiliki kecendrungan untuk berbuat baik dan atau berbuat jahat,kecendrungan berbuat baik dikembangkan oleh malaikat dan kecendrungan berbuat jahat di manfaatkan oleh setan dengan berbagai tipu daya.itulah sebabnya maka akal manusia yang mempertimbangkan kedua kecendrungan itu perlu di isi dengan kepada wahyu yang sengaja diturunkan Tuhan untuk menjadi pedoman hidup manusia.
        Malaikat tidak mungkin di teliti oleh ilmu pengetahuan karena dia berada dalam alam gaib hakiki ataualam agib mutlak.penggetahuan manusia (biasa)mengenai alam gaib mutlak itu terbatas dan bersifat spekulatif pula.Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mampu memberikan pengetahuan yang pasti dan benar tentang itu.melalui sunnah Nabi Nya kita mendapat keterangan tambahan tentang tugaspara malaikat.di antaranya ada yang mencabut nyawa (Izrail),menjaga neraka (Malik),mengawal surga (Ridwan),menanyai orang meninggal dengan imannya (Munkar dan Nakir),mencatat segala perbuatan manusia (Raqib dan Atid), ada pula malaikat (Israfil) yang meniupkan nafiri sangkakalauntuk membangkitkan manusia di hari perhitungan kelak (Kenneth W.Morgan,1980 :459).tentang para malaikat hanya sedikit pengetahuan manusia.itu pun dalam garis-gaaris besarnya saja.kita menerima kebenaran tentang adanya malaikat-malaikat dan tugasnya itu melalui akal kita yakin akal sebagai kurnia Ilahi yang mengikatkan manusia pada Allah.
      Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia melaui malaikat jibril.wahyu itu terhimpun dalam kitab-kitab suci.






C.KEYAKINAN PADA KITAB-KITAB SUCI
      Keyakinan pada kitab-kitab suci merupakan rukun iman ketiga.kitab-kitab suci memuat wahyu Allah.perkataan kitab yang berasal dari kata kerja kataba (artinya ia telah menulis) memuat wahyu Allah.perkataan wahyu berasal dari bahasa arab : al-wahy.kata ini mengandung makna suara,bisikan,isyarat,tulisan dan kitab.dalam pengertian umum wahyu adalah firman Allah yang disampaikan malaikat jibril kepada Rasul-Nya.dengan demikian dalam perkataan wahyu mengandung pengertian penyampaian firman Allah kepada orang yang telah dipilih-Nya untuk diteruskan kepada umat manusia guna dijadikan pegangan hidup.firman Allah itu mengandung ajaran,petunjuk,pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya didunia ini menuju akhirat.wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia,semua terekam dengan baik di dalam al-Qur’an,kitab umat islam.
       Al-Qur’an menyebut beberapa kitab suci misalnya zabur yang diturunkan melalui Nabi
Daud,taurat melalui Nabi Musa,injil melaui Nabi Isa,dan al-Qur’an melalui Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.namun dalam perjalanan sejarah,kecuali al-Qur’an,isi kitab-kitab suci itu telah berubah,tidak lagi memuat firman Allah yang asli sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul terdahulu.Taurat dan Injil,misalnya,dapat dibuktikan telah diubah,ditambah dan dikurangi isinya oleh tangan-tangan manusia yang menjadi pemimpin atau pemuka agama bersangkutan.sebagai umat islam kita wajib meyakini adanya kitab-kitab suci yang memuat ajaran tauhid.ajaran Keesaan Allah yang menjadi esensi semua kitab-kitab suci itu.tetapi,kalau kita kaji kitab Taurat yang disebut perjanjian lama dan Injil yang dinamakan perjanjian baru,isinya tidak lagi murni memuat firman Allah.
       Perubahan ayat-ayat dalam kitab suci sebelum al-Qur’an,ada yan dilakukan dengan sengaja adapula yang tidak dengan sengaja.ketidaksengajaan ini terjadi melalui terjemahan daro satu bahasa ke bahasa yang lain.dalam ilmu bahasa ada dalil yang menyatakan bahwa tidak mungkin satu bahasa diterjemahkan ke dalam bahasa lain dengan sempurna karena banyak istilah yang tidak sama atau sepadan antara dua bahasa.dengan mempergunakan kata yang tidak seluruhnya sesuai dan setara itu,menyusuplah perubahan pengertian sekalipun sedikit.himpunan yang sedikit itu,lama-lama menjadi bukit.
      Untuk mencegah al-Qur’an tidak mengalami nasib yang sama seperti kitab-kitab suci lain iitu,maka kalau al-Qur’an diterjemahkan kedalam salah satu bahasa,teks asli al-Qur’an dalam bahasa arab disampaikan sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dahulu tetap dipertahankan dan ditetapkan berdampingan dengan terjemahannya.terjemahan al-Qur’an menurut ajaran islam,bukanlah al-Qur’an.
      Perkataan al-Qur’an berasal dari kata kerja qara’a artinya dia telah membaca,kata kerja ini berubah menjadi kata benda qur’an yang secara harfiah berarti bacaan atau sesuatu yang harus di baca atau dipelajari.al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang memuat wahyu Allah yang di sampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad selama masa kerasullannya.Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran islam.menurut keyakinan umat islam  yang dibenarkan oleh penelitian ilmiah,al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat firman-firman Allah.al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari,mula-mula di mekkah dan kemudian di madinah.pada garis-garis besarnya,al-Qur’an soal-soal yang berkenaan dengan (1) akidah (2)syari’ah baik (3) akhlak dalam semua ruang lingkup (4)kisah-kisah umat manusia di masa lampau (5)berita-berita tentang zaman yang akan datang (6)benih dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan,dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia di dalamnya.
D.KEYAKINAN PADA PARA NABI DAN RASUL
     Yakin pada nabi dan rasul merupakan rukun 5 ke empat.di dalam buku-buku ilmu tauhid disebutkan antara bahwa antara nabi dan rasul ada perbedaan tugas utama.para nabi menerima tuntutan berupa wahyu,akan tetapi tidak mempunyai kewajiban menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia.rasul adalah utusan Tuhan yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.oleh karena itu seorang rasul adalah nabi,tetapi seorang nabi belum tentu rasul.di dalam al-Qur’an disebut nama 25 orang nabi,beberapa diantaranya berfungsi juga sebagai rasul (Daud,Isa,Mus,Muhammad) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada manusia dan menunjukan cara cara pelaksanaan dalam kehidupan manusia sehari-hari.jumlah nabi dan rasul adalah banyak,namun berapa jumlahnya yang pasti tidaklah diketahui.ada yang berpendapat (Hasbi Ash Shiddieqy seperti yang diutip oleh Nasruddin Razak : 1977) jumlah para raul yang pernah di utus Tuhan untuk memimpin manusia 313 orang,sedangkan jumlah para nabi 124.000 orang,Al-Qur’an tidak menyebut jumlah itu.yang disebut dalam al-Qur’an adalah nama 25 orang nabi,seperti yang telah dikemukakan di atas.
       Setelah para nabi dan rasul yang banyak di utus Tuhan unutk memimpin masing-masing umatnya dibumi ini,Allah mengutus Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia.”dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad),melainkan kepada umat manusia sebagai pemberi peringatan ; tetapi,kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”demikian (lebih kurang) terjemahan al-Qur’an surah Saba’(34) : 28.menurut para penulis sejarah nabi dan rasul,ada beberapa alasan yang menyebabkan Allah mengutus Nabi Muhammad,antara lain: 1) para Rsul yang mendahului Nabi Muhammad mempunyai risalah (mission) terbatas hanya untuk bangsa atau daerah tertentu saja 2) ajaran para rasul sebelumnya banyak yang hilang atau sengaja dihilangkan oleh para pemuka agama yang bersangkutan.3) ajaran rasul terdahulu yang bersifat lokal (setempat) temporal (sementara) perlu disempurnakan dengan ajaran yang universal (meliputi seluruh dunia) dan aternal (abadi) sifatnya.”kami mengutus engkau (Muhammad) untuk menjadi rahmat seluruh alam semesta” demikian (kurang lebih) makna firman Tuhan dalam Al-Qur’an surah al-anbiyah (21) : 107.itulah sebabnya maka kedudukan Nabi Muhammad manjadi sangat unik dalam sejarah para nabi dan rasul.
        Selain apa yang telah dikemukakan di atas,perlu di kemukakan pula bahwa Nab Muhammad adalah nabi penutup segala nabi.dan rasul terakhir.sejarah hidupnya jelas dan lengkap serta terpelihara dari masa ke masa.akhlaknya baik,yang biasanya di gambarkan dengan kata-kata 1)dapat dipercaya (amanah) 2)selalu benar (shiddiq) 3)cerdas dan bijaksana (fathanah) 4)selalu menyampaikan apa yang disampaikannya (tabligh).
       Oleh karena akhlaknya demikian,seluruh suri teladan yang diberikannya dalam mengamalkan agama islam dalam berbagai sunah menjadi sumber dan nilai kedua umat islam sesudah wahyu.”sesungguhnya,pada diri Rasul Allah terdapat suru teladan baik bagi kamu,”demikian terjemahan firman Tuhan dalam al-Qur’an surah al-ahzab (33):21.dan karena itu”apa yang di bawanya ikutilah dan apa yang dilarangnya jauhilah” (Q.s. al-Hasyr (59): 7).suri teladan yang Rasulullah itu mungkin berupa perkataan (qaul)mungkin juga berupa perbuatan (fi’il) serta pendiaman (sukut atau taqrir) tanda setuju.semuanya disebut as-sunnah atau hadits,seperti yang telah disebut di muka.sunnah Nabi Muhammad merupakan sumber pengetahuanyang  monumental bagi umat islam.sebabnya,karena selain ia merupakan penafsiran otentik dan penjelasan yang sempurna tentang al-Qur’an,sunnah juga membahas berbagai hal mulai dari metafisika sampai kepada tata tertib di meja makan (SH Nasr,1981 : 49).

  E.KEYAKINAN PADA HARI KIAMAD DAN PERTANGGUNG JAWABAN MANUSIA DI AKHIRAT
                   Rukun iman yang kelima adalah keyakinan pada hari akhirat,keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian kesatuan rukun iman lainnya,sebab tanpa mempercayai hari akhirat sama halnya dengan orang yang tidak mempercayai agama islam,walaupun orang yang menyatakan ia percaya kepada Allah,al-Qur’an dan Nabi Muhammad.menurut Abu A’la Maududi (Altaf Gauhar,1983 : 13) manusia tidak dilepaskan begitu saja kedunia ini sebagai binatang yang tidak bertanggung jawab atas segala perbuatannya itu kepada Allah (kelak).saat memberikan pertanggung jawab,ia bertanggung jawab itu telah ditentukan oleh Allah,yakni setelah hari kiamad,sesudah kehidupan manusia di atas bumi ini berakhir dan berganti dengan kehidupan lain.pada waktu itu kelak semua manusia (juga yang sudah mati) akan di bangkitkan  (dihidupkan Tuhan kembali) dan dipanggil untuk memberikan pertanggung jawaban yang lengkap mengenai segala perbuatannya,apakah sesuai atau tidak sesuai dengan larangan atau perintah Allah.
                    seperti yang telah disinggung di atas ,seseorang akan menerima segala akibat segalaperbuatan yang dilakukannya di dunia ini,seperti yang sudah difirmankan Allah dalam surah at-Taubah (9) ayat 68 kalimat terakhir yang terjemahannya berbunyi “dan Allah menglaknati  (orang-orang munafik=berpura-pura beriman) dengan (balasan) bagi mereka azab yang kekal.”pengadilan atas diri  manusia di depan Allah Yang Maha Adil itu,akan berlangsung terbuka dengan segala bukti untuk menjelaskan apa yang telah di lakukan oleh manusia di dunia di bumi ini,baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”dan mereka akan di bawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris ..” “Dan diletakkan (di depan mereka),kitab,lalu kamu akan melihat orang-orang  yang bersalah ketakutan terjadap apa yang (tertulis) di dalamnya,dan mereka berkata...”Kitab apakah ini yang tidak meniggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang esar,melainkan mencatat semuanya....”demikian bunyi terjemahan al-Qur’an  surah Al-kahfi (18) ayat 48 (permulaan) dan bagian ayat 49.di dalam proses ini tidak seorang pun dapat memindahkan beban pertangguanjawabnya kepada orang lain,setiap orang berdiri sendiri dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menantikan keputusan atas dirinya yang berada di dalam kekuasaan Allah semata-mata.proses pengadilan itu tertumpu kepada pertanyaan : apakah manusia yang di adili itu tunduk kepada Allah sesuai dengan ketetapan-Nya yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang di utusNya kepada manusia.jika jawaban terhadap pertanyaan ini positif,seperti yang telah di sebut juga di atas,manusia akan di tempatkan di sorga,tetapi kalau jawaban itu negatif,ia akan di masukan ke dalam suatu tempat yang disebut neraka.
                    Keyakinan kepada hari akhirat ini membuat manusia terbagi ke dalam tiga kategori .kategori pertama adalah manusia yang tidak percaya kepada hari akhirat dan memandang kehidupan di dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan.kategori kedua adalah manusia yang tidak menyangkal hari akhirat,tetapi bergantung kepada campur tangan atau bantuan pihak lain untuk mensucikan diri dan menembus dosa-dosanya.kategori ketiga adalah manusia yang yakin pada hari akhirat sebagaimana diterangkan dalam ajaran islam.orang yang yakin akan adanya hari akhirat dan yakin pula bahwa ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatan ayng dilakukannya,memperoleh pengawasan dalam dirinya setiap saat ia menyimpang dari jalan yag benar.kesadaran akan adanya pengawasan di dalam dirinya itu membuat manusia manjadi takwa dan takut kepada Allah walaupun tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatannya .ia akan melaksanakan kewajibannya dengan jujur dan tidak suka melakukan perbuatan-perbuatan terlarang.seandainya pun ia tergelincir pada suatu waktu dan melanggar ketentuan Allah,ia senantiasa siap untuk bertaubat dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.keyakinan pada hari akhirat inilah yang mendorong manusia menyesuaikan diri dengan kerangka nilai abadi yang di tetapkan Allah.keyakinan kepada hari akhirat itu pulalah yang menolong manusia memperkembangkan kepribadiannya secara sehat dan mantap,karena itu pula ajaran islam mementingkan benar kayakinan kepada hari akhirat (Altaf Gaufar, 1983 : 14-15)
F.KEYAKINAN PADA KADA DAN KADAR (TAKDIR)
                        Keyakinan pada rukun-rukun iman yang telah dikemukakan di atas tersebut dasarnya dalam al-Qur’an,antara lain dalam bagian surat  al-Baqarah (2) ayat 285 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “semuanya beriman kepada Allah,malaikat-malaikatNya,kitab-kitabNya,rasul-rasulNya,,,”setelah berseru kepada orang-orang beriman agar beriman kepada yang di sebut Q.s. 2 :285 di atas,pada kalimat kedua Allah memperingatkan orang-orang kafir,dengan rumusan “barang siapa yang kafir kepada Allah,malaikat-malaikatNya,kitab-kitabNya,rasul-rasulNya dan hari kemudian,maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya,” dalam Q.s. An-Nisa (4) :138 keyakinan pada qada dan qadar  yang menjadi rukun iman keenam ini berasal dari sunnah nabi,sunnah nabi yang kini dihimpun dalam kitab-kitab hadist,merupakan bagian integral iman atau keyakina islam.
                    Khusus mengenai perkataan qada dan qadar yang disebut dalam al-Qur’an antara lain dalam surah al-Ahzab (33) : 36.di dalam sejarah islam,perkataan qada dan qadar yang disebut juga takdir dalam pembicaraan seahri-hari,pernah menimbulkan salah paham terhadap ajaran islam,sebabnya,karena perkataan takdir diartikan sebagai sikap pasrah kepada nasib  tanpa usaha atau ikhtiar.untuk menghilangkan kesalah pahaman tersebut perlu dipahami benar makna yang dikandung oleh kedua perkataan tersebut.yang dimaksud dengan qada adalah ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan tentang sesuatu,sedangkan qadar adalah ukuran suatu menurut hukum tertentu.dapat pula dikatakan bahwa qada adalah ketentuan atau ketetapan dan qadar adalah ukuran.dengan demikian yang dimaksud dengan qada dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan (Allah) menurut ukuran atau norma tertentu.
                       Dalam meyakini rukun iman yang keenam ini ada beberapa hal yang perlu di jelaskan,diantaranya yang terpenting adalah hubungan takdir dengan kehendak bebas atau free will manusia tersebut di atas.untuk itu perlu dikemukakan pertanyaan berikut : dalam meyakini takdir Illahi apakah manusia masih mempunyai kehendak bebas dalam mengatur perbuatannya ? dalm menjawab pertanyaan ini ada 2 teori yang berbeda.perbedaan itu disebabkan karena perbedaan pendapat mengenai kekuasaan Tuhan yang mutlak dan keadilan mengenai perbuatan manusia.
                        Yang menganggap kekuasaan Tuhan itu mutlak berpendapat bahwa Allah dapat berbuat apa saja,baik yang kelihatan adil maupun yang tidak adil oleh manusia (teori pertama).menurut pandangan ini,manusia adalah alat Tuhan yang tidak mempunyai kebebasan dalam mengatur nasibnya.teori ini yang terkemal sebagai fatalisme (ajaran atau faham bahwa manusia dikuasai oleh nasib) telah menyebabkan islam dilecehkan sebagai agama fatalistis (ajaran yang pemeluknya percaya atau menyerah saja pada nasib).menurut Mahmud Syaltut berpendapat,pendapat di atas adalah salah-sesalahnya,karena islam mengakui peranan manusia dalam mengatur perbuatan-perbuatannya.
                       Pendapat Mahmud Syaltut ini sejalan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia bertanggung jawab ats perbuatan-perbuatannya (teori kedua) dengan akal yang ada padanya,manusia dapat menentukan pilihannya,dengan kehendak bebas (free will) yang ada padanya,manusia menjadi pembuat nasibnya sendiri.ini jelas dalam ayat yang mengatakan bahwa “ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,sebelum kaum itu sendiri mengubahnasib mereka” (Q.s. ar-Ra’du (13) : 11).perkataan suatu kaum dalam ayat di atas dapat di ganti dengan seseorang.oleh karena itu,apa yang disebut nasib,sesungguhnya,tidaklah lain dari berikutnya hukum sebab akibat dalam kehidupan manusia (secara orang).
                        Menurut al-Qur’an,demikian Mahmud Syaltut,manusia bebas memilih perbuatan yang akan dilakukannya.ia bebas pula menetukan kepercayaan yang dianutnya dan dia akan memperoleh sesuatu baik hukuman atau pun pahala sesuai dengan pilihannya itu.Allah hanya menunjukan jalan yang seyogyanya di ikuti oleh manusia,oleh karena itu manusia harus  mengerjakan penyelamatan dirinya dan penyelamatan ini hanya dapat dalam beriman dan beramal saleh.beramal saleh berarti berbuat sesuatu yang baik yang bermanfaat bagi diri sendiri,orang lain dan masyarakat.di dalam al-Qur’an perkataan iman selalu di ikuti dengan perkataan amal saleh sebagai syarat bagi manusia untuk memasuki surga yang telah disediakan Allah untuknya.
                       Untuk memahami takdir,manusia harus hidup dengan ikhtiar,sebab dalam kehidupan sehari-harinya hanya takdir Illahi berkaitan erat dengan usaha manusia.usaha manusia haruslah maksimal,( sebanyak-banyaknya)dan optimal (sebaik-baiknya) diiringi dengan doa dan tawakkal.tawakkal yang dimaksud adalah tawakkal dalam makna menyerahkan nasib dan kesudahan usaha kita kepada Allah,sementara kita terus berikhtiar serta yakin bahwa penentuan terakhir segala-galanya berada dalam keputusan Allah.inilah makna takdir yang sebenarnya,yang berlangsung melalui proses usaha ( ikhtiar ), doa dan tawakkal.