AKIDAH ISLAM
sesungguhnya
dasar yang dijadikan pijakan masyarakat islam dan yang diembannya adalah
akidah,yaitu akidah islam.tugas pertama masyarakat islam adalah menjaga akidah
ini,merawat,memantapkan dan memancarkan cahanya diseluruh cakrawala.
Akidah islam
terwujud dalam bentuk keimanan kepada
Allah,malaikat-malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya dan hari
akhir,Rasulullah telah beriman kepada al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya
dari rabb-nya,demikian pula orang-orang yang beriman.semuanya beriman kepada
Allah.(mereka mengatakan,”kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun,
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya” dan mereka mengatakan,”kami dengar dari
kami taat”.(mereka berdoa)”ya Rabb kami
dan kepada Engkaulah tempat kami kembali” (Al-baqarah :285).
Ia adalah
akidah yang membangun (kontruktif) dan tidak menghancurkan
(destruktif),menggalang dan tidak menceraiberaikan,karena ia berdiri di atas
warisan (peniggalan)semua risalah ilahi dan di atas keimanan kepada semua Rasul
Allah.akidah ini memiliki lambang yang menyimpulkannya atau menjadi simbol yang
mengungkapka tentangnya,yaitu syahadat laa
ilaaha illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah “(kesaksian bahwa tidak
ada Ilah yang haq kecuali Allah dan kesaksian bahwa Muahammad adalah
utusan/rasul Allah).akidah inilah yang mewakili pandangan dan persepsi umat
islam tentang alam dan Rabb pemilik alam,tentang fisik dan metafisik,tentang
kehidupan dan apa yang terjadi setelah kematian,tentang alam nyata dan alam
gaib.dengan kata lain,tentang makhluk dan khalik,tentang dunia dan akhirat dan
tentang alam nyata dan alam gaib.
Alam ini dengan
bumi dan langitnya,dengan benda mati dan tumbuhan-nya,dengan hewan dan
manusianya,dengan jin dan malaikatnya.alam ini tidak tercipta secara kebetulan begitu saja dan
tidak pula ia menciptakan dirinya mandiri.oleh karena itu harus ada untuknya
Sang pencipta Yang Maha Mengetahui,Yang Maha Kuasa,Perkasa dan Bijaksana,yang
telah menciptakannya lalumenyempurnakannya dan telah menentukan segala sesuatu
dengan ukuran.setiap atom yang ada padanya disertai timbangan,setiap gerak
padanya disertai ukuran dan perhitungan.Sang Khalik itu adalah Allah,yang
setiap kata,bahkan huruf dalam kitab (ayat-ayat) kauniah (alam) menunjukan
kepada kehendak dan kekuasaan Nya,membuktikan ilmu dan hikmah
(kebijaksanaan)-Nya,”langit yang tujuh,bumi dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih kepada Allah,dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan
memujiNya.”(Al-Isra’:44).
Allah,Zat Yang
Maha Mutlak itu,menurut ajaran islam,adalah Tuhan Yang Maha Esa.segalah sesuatu
mengenai Tuhan disebut ketuhanan.Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar Negara
Republik Indonesia.menurut pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 Negara
berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.menurut Hazairin (seperti sudah
disebut juga di depan)(Hazairin,1970 : 58),istilah Ketuhanan Yang Maha Esa
diciptakan oleh otak,pengertian dan iman orang islam indonesia,sebagai
terjemahan kata-kata yang terhimpun dalam Allahu al wahidu-I-ahad (baca :
Allahu alwahidul ahad) yang berasal dari al-Qur’an surah al-Baqarah (2) : 163
dan surah al-ikhlas (112) : 1. Alwahidu-I-ahad itulah yang diterjemahkan dengan
Yang Maha Esa,yang sebelum tahun 1945 (perkataan itu) tidakl ada dalam bahasa
indonesia.
A.KEYAKINAN KEPADA ALLAH
Sang Khalik
Yang Maha Tinggi ini adalah Rabb langit dan bumi,Rabb semesta alam,Rabb segala
sesuatu,Yang Tunggal dan Maha Esa,serta tidak ada sekutu bagi-Nya dalam
zat,sifat-sifat dan pembuatan-Nya.Dia sendirilah Yang Maha Awal azali dan Yang
Maha Kekal Abadi,Dia sendirilah Sang Pencipta,Perancang dan Pembentuk.Bagi
Allah nama-nama baik (asma’ul husna),sifat-sifat yang tinggi (shifat
‘ula),tidak ada seteru dan tidak ada lawan bagi-Nya,tidak ada anak dan tidak
ada orang tua bagi-Nya,tidak ada yang menyerupai dan menyamai
diriNya.”katakanlah,’Dia-lah Allah Yang Maha Esa,Allah adalah Rabb yang
bergantung kepadaNya segala sesuatu,Dia tidak beranak dan tidak diperanakan,dan
tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”(AL-Ikhlash :1-4).
Menurut akidah islam,konsepsi tentang
Ketuhanan Yang Maha Esa disebut tauhid.ilmunya adalah ilmu tauhid.ilmubtauhid
adalah ilmu tentang Kemahaesaan Tuhan (Osman Raliby,1980 : 8).menurut Osman
Raliby ajaran islam tentang Kemahaesaan Tuhan adalah sbb : Allah Maha Esa Dalam
Zat-Nya serta Allah Maha Esa dalam sifat-sifatNya.
Kemaha Esaan
Allah dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa Zat Allah tidak
sama dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga.Dia Unique (unik : lain
dari semuanya),berbeda dalam segala-galanya.Zat Tuhan yang unik atau Yang Maha
Esa itu bukanlah materi yang terdiri dari beberapa unsur bersusun.ia tidak
dapat disamakan atau di bandingkan dengan benda apa pun yang kita kenal,yang
menurut ilmu fisika terjadi dari susunan atom,molekul dan unsur-unsur berbentuk
yang takluk kepada ruang dan waktu yang dapat di tangkap oleh panca indera
manusia,yang dapat hancur musnah dan lenyap pada suatu masa.
Keyakinan kepada Zat Allah Yang Maha Esa
seperti itu mempunyai konsekuensi.konsekuensinya adalah bagi bagi umat islam
yang mempunyai akidah demikian,setiap atau segala sesuatu yang dapat di tangkap
oleh pancaindera mempunyai bentuk tertentu,tunduk pada ruang dan waktu,hidup
memerlukan makanan dan minuman seperti manusia biasa,mengalami sakit dan
mati,lenyap dan musnah,bagi seorang muslim bukanlah Allah,Tuhan Yang Maha Esa.
Kemaha Esaan
Allah dalam sifat-sifatNya ini mempunyai arti bahwa sifat-sifat Allah penuh
keutamaan dan kesempurnaan,tidak ada yang menyamaiNya.sifat-sifat Allah itu
banyak dan tidak dapat diperkirakan.namun demikian,dari al-Qur’an dapat
diketahui (99) nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan al-asma’ul husna :
(99) nama Allah yang indah.di dalam lmu tauhid,dijelaskan 20 sifat Tuhan,yang
disebut dengan sifat dua puluh,yaiut : 1.ada,2,azal,tidak ada permulaanNya.
3.kekal,abadi tidak berkesudahaan 4.berbeda dengan segala ciptaanNya 5.berdiri
sendiri 6.Maha Esa 7.berkuasa,Maha Kuasa 8.Berkehendak 9.Maha Mengetahui 10.Hidup 11.Maha Mendengar 12.Maha Melihat
13.Maha Berkata-kata 14.dalam keadaan Berkuasa
15.dalam berkeadaan Berkemauan 16.dalam berkeadaan Berpengetahuan
17.dalam keadaan Hidup 18.dalam keadaan Mendengar 19.dalam keadaan melihat
20.dalam berkeadaan Berkata-kata.
Segala sesuatu yang ada di alam luas ini,yang ada di atas
dan dibawahnya serta makhluk-makhluknya yang dian dengan yang
berbicara,menunjukan bahwa hanya satu akal yang mengatur seluk-beluknya,satu
tangan yang mengatur rotasi perputarannya dan yang mengarahkan sisi ujung
pangkal dalam pergerakan dinamikanya,kalau tidak demikian,niscaya akan kacau
sistemnya,hilang kendalinya goncang keseimbangannya dan hancurlah struktur
bangunannya karena akibat dari konsekuensi logis dari perbedaan berbagai akal
kontradiktif (bertentangan) yang mengarahkannya
dan perbedaan berbagai tangan yang menggerakannya.
B.KEYAKINAN PADA PARA
MALAIKAT
Malaikat adalah
makhluk gaib,tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia,akan tetapi dengan
izin Allah,malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia,seperti malaikat
jibril menjadi manusia di hadapan maryam,ibu Isa almasih (Q.s. Maryam (19) :
16-17) misalnya.mereka diciptakan Tuhan dari cahaya dengan sifat atau
pembaawaan antara lain, 1).selalu taat dan patuh kepada Allah. 2).senantiasa
membenarkan dan melaksanakan perintah Allah,para malaikat mempunyai sifat
tertentu (a) di alam gaib dan (b) di alam dunia.tugas malaikat di dunia antara lain
:menyampaikan wahyu Allah kepada manusia melalui para Rasul-Nya.mengukuhkan
hati orang-orang yang beriman,memberi pertolongan kepada manusia,membantu
perkembangan rohani manusia,mendorog manusia unutk berbuat baik, dan mencatan
perbuatan manusia,juga melaksanakan hukuman Allah.
Manusia wajib
meyakini adanya makhluk yang bertugas untuk menumbuhkan dan mengembangkan
rohaninya.kewajiban untuk percaya kepada malaikat dinyatakan dengan tegas oleh
Allah dalam firman-Nya di dalam al-Qur’an surah al-baqarah (2) ayat 177 yang
artinya “sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,hari
kemudian,malaikat-malaikat...”
Beriman kepada
para malaikat mempunyai konsekuensi terhadap seorang muslim.konsekuensinya
seorang muslim harus meyakini adanya kehidupan rohani yang harus dikembangkan
sesuai dengan dorongan para malaikat itu.menurut ajaran islam,setiap manusia
memiliki kecendrungan untuk berbuat baik dan atau berbuat jahat,kecendrungan
berbuat baik dikembangkan oleh malaikat dan kecendrungan berbuat jahat di
manfaatkan oleh setan dengan berbagai tipu daya.itulah sebabnya maka akal
manusia yang mempertimbangkan kedua kecendrungan itu perlu di isi dengan kepada
wahyu yang sengaja diturunkan Tuhan untuk menjadi pedoman hidup manusia.
Malaikat tidak
mungkin di teliti oleh ilmu pengetahuan karena dia berada dalam alam gaib
hakiki ataualam agib mutlak.penggetahuan manusia (biasa)mengenai alam gaib
mutlak itu terbatas dan bersifat spekulatif pula.Hanya Allah dan Rasul-Nya yang
mampu memberikan pengetahuan yang pasti dan benar tentang itu.melalui sunnah
Nabi Nya kita mendapat keterangan tambahan tentang tugaspara malaikat.di
antaranya ada yang mencabut nyawa (Izrail),menjaga neraka (Malik),mengawal
surga (Ridwan),menanyai orang meninggal dengan imannya (Munkar dan
Nakir),mencatat segala perbuatan manusia (Raqib dan Atid), ada pula malaikat
(Israfil) yang meniupkan nafiri sangkakalauntuk membangkitkan manusia di hari
perhitungan kelak (Kenneth W.Morgan,1980 :459).tentang para malaikat hanya
sedikit pengetahuan manusia.itu pun dalam garis-gaaris besarnya saja.kita
menerima kebenaran tentang adanya malaikat-malaikat dan tugasnya itu melalui
akal kita yakin akal sebagai kurnia Ilahi yang mengikatkan manusia pada Allah.
Allah
menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia melaui malaikat jibril.wahyu itu
terhimpun dalam kitab-kitab suci.
C.KEYAKINAN PADA
KITAB-KITAB SUCI
Keyakinan pada
kitab-kitab suci merupakan rukun iman ketiga.kitab-kitab suci memuat wahyu
Allah.perkataan kitab yang berasal dari kata kerja kataba (artinya ia telah
menulis) memuat wahyu Allah.perkataan wahyu berasal dari bahasa arab :
al-wahy.kata ini mengandung makna suara,bisikan,isyarat,tulisan dan kitab.dalam
pengertian umum wahyu adalah firman Allah yang disampaikan malaikat jibril
kepada Rasul-Nya.dengan demikian dalam perkataan wahyu mengandung pengertian
penyampaian firman Allah kepada orang yang telah dipilih-Nya untuk diteruskan
kepada umat manusia guna dijadikan pegangan hidup.firman Allah itu mengandung
ajaran,petunjuk,pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya
didunia ini menuju akhirat.wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai
Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia,semua terekam dengan baik di
dalam al-Qur’an,kitab umat islam.
Al-Qur’an menyebut beberapa kitab suci
misalnya zabur yang diturunkan melalui Nabi
Daud,taurat melalui Nabi Musa,injil melaui Nabi Isa,dan al-Qur’an melalui Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.namun dalam perjalanan sejarah,kecuali al-Qur’an,isi kitab-kitab suci itu telah berubah,tidak lagi memuat firman Allah yang asli sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul terdahulu.Taurat dan Injil,misalnya,dapat dibuktikan telah diubah,ditambah dan dikurangi isinya oleh tangan-tangan manusia yang menjadi pemimpin atau pemuka agama bersangkutan.sebagai umat islam kita wajib meyakini adanya kitab-kitab suci yang memuat ajaran tauhid.ajaran Keesaan Allah yang menjadi esensi semua kitab-kitab suci itu.tetapi,kalau kita kaji kitab Taurat yang disebut perjanjian lama dan Injil yang dinamakan perjanjian baru,isinya tidak lagi murni memuat firman Allah.
Daud,taurat melalui Nabi Musa,injil melaui Nabi Isa,dan al-Qur’an melalui Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.namun dalam perjalanan sejarah,kecuali al-Qur’an,isi kitab-kitab suci itu telah berubah,tidak lagi memuat firman Allah yang asli sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul terdahulu.Taurat dan Injil,misalnya,dapat dibuktikan telah diubah,ditambah dan dikurangi isinya oleh tangan-tangan manusia yang menjadi pemimpin atau pemuka agama bersangkutan.sebagai umat islam kita wajib meyakini adanya kitab-kitab suci yang memuat ajaran tauhid.ajaran Keesaan Allah yang menjadi esensi semua kitab-kitab suci itu.tetapi,kalau kita kaji kitab Taurat yang disebut perjanjian lama dan Injil yang dinamakan perjanjian baru,isinya tidak lagi murni memuat firman Allah.
Perubahan
ayat-ayat dalam kitab suci sebelum al-Qur’an,ada yan dilakukan dengan sengaja
adapula yang tidak dengan sengaja.ketidaksengajaan ini terjadi melalui
terjemahan daro satu bahasa ke bahasa yang lain.dalam ilmu bahasa ada dalil
yang menyatakan bahwa tidak mungkin satu bahasa diterjemahkan ke dalam bahasa
lain dengan sempurna karena banyak istilah yang tidak sama atau sepadan antara
dua bahasa.dengan mempergunakan kata yang tidak seluruhnya sesuai dan setara
itu,menyusuplah perubahan pengertian sekalipun sedikit.himpunan yang sedikit
itu,lama-lama menjadi bukit.
Untuk mencegah
al-Qur’an tidak mengalami nasib yang sama seperti kitab-kitab suci lain
iitu,maka kalau al-Qur’an diterjemahkan kedalam salah satu bahasa,teks asli
al-Qur’an dalam bahasa arab disampaikan sebagaimana disampaikan malaikat Jibril
kepada Nabi Muhammad dahulu tetap dipertahankan dan ditetapkan berdampingan
dengan terjemahannya.terjemahan al-Qur’an menurut ajaran islam,bukanlah
al-Qur’an.
Perkataan
al-Qur’an berasal dari kata kerja qara’a artinya dia telah membaca,kata kerja
ini berubah menjadi kata benda qur’an yang secara harfiah berarti bacaan atau
sesuatu yang harus di baca atau dipelajari.al-Qur’an adalah kitab suci umat
islam yang memuat wahyu Allah yang di sampaikan oleh malaikat Jibril kepada
nabi Muhammad selama masa kerasullannya.Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran
islam.menurut keyakinan umat islam yang
dibenarkan oleh penelitian ilmiah,al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat
firman-firman Allah.al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2
bulan 22 hari,mula-mula di mekkah dan kemudian di madinah.pada garis-garis
besarnya,al-Qur’an soal-soal yang berkenaan dengan (1) akidah (2)syari’ah baik
(3) akhlak dalam semua ruang lingkup (4)kisah-kisah umat manusia di masa lampau
(5)berita-berita tentang zaman yang akan datang (6)benih dan prinsip-prinsip
ilmu pengetahuan,dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alam semesta termasuk
manusia di dalamnya.
D.KEYAKINAN PADA PARA
NABI DAN RASUL
Yakin pada nabi
dan rasul merupakan rukun 5 ke empat.di dalam buku-buku ilmu tauhid disebutkan
antara bahwa antara nabi dan rasul ada perbedaan tugas utama.para nabi menerima
tuntutan berupa wahyu,akan tetapi tidak mempunyai kewajiban menyampaikan wahyu
itu kepada umat manusia.rasul adalah utusan Tuhan yang berkewajiban
menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.oleh karena itu seorang
rasul adalah nabi,tetapi seorang nabi belum tentu rasul.di dalam al-Qur’an
disebut nama 25 orang nabi,beberapa diantaranya berfungsi juga sebagai rasul
(Daud,Isa,Mus,Muhammad) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya
kepada manusia dan menunjukan cara cara pelaksanaan dalam kehidupan manusia
sehari-hari.jumlah nabi dan rasul adalah banyak,namun berapa jumlahnya yang
pasti tidaklah diketahui.ada yang berpendapat (Hasbi Ash Shiddieqy seperti yang
diutip oleh Nasruddin Razak : 1977) jumlah para raul yang pernah di utus Tuhan
untuk memimpin manusia 313 orang,sedangkan jumlah para nabi 124.000
orang,Al-Qur’an tidak menyebut jumlah itu.yang disebut dalam al-Qur’an adalah
nama 25 orang nabi,seperti yang telah dikemukakan di atas.
Setelah para
nabi dan rasul yang banyak di utus Tuhan unutk memimpin masing-masing umatnya
dibumi ini,Allah mengutus Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia.”dan kami
tidak mengutus engkau (Muhammad),melainkan kepada umat manusia sebagai pemberi
peringatan ; tetapi,kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”demikian (lebih
kurang) terjemahan al-Qur’an surah Saba’(34) : 28.menurut para penulis sejarah
nabi dan rasul,ada beberapa alasan yang menyebabkan Allah mengutus Nabi
Muhammad,antara lain: 1) para Rsul yang mendahului Nabi Muhammad mempunyai risalah
(mission) terbatas hanya untuk bangsa atau daerah tertentu saja 2) ajaran para
rasul sebelumnya banyak yang hilang atau sengaja dihilangkan oleh para pemuka
agama yang bersangkutan.3) ajaran rasul terdahulu yang bersifat lokal
(setempat) temporal (sementara) perlu disempurnakan dengan ajaran yang
universal (meliputi seluruh dunia) dan aternal (abadi) sifatnya.”kami mengutus
engkau (Muhammad) untuk menjadi rahmat seluruh alam semesta” demikian (kurang
lebih) makna firman Tuhan dalam Al-Qur’an surah al-anbiyah (21) : 107.itulah
sebabnya maka kedudukan Nabi Muhammad manjadi sangat unik dalam sejarah para
nabi dan rasul.
Selain apa
yang telah dikemukakan di atas,perlu di kemukakan pula bahwa Nab Muhammad
adalah nabi penutup segala nabi.dan rasul terakhir.sejarah hidupnya jelas dan
lengkap serta terpelihara dari masa ke masa.akhlaknya baik,yang biasanya di
gambarkan dengan kata-kata 1)dapat dipercaya (amanah) 2)selalu benar (shiddiq)
3)cerdas dan bijaksana (fathanah) 4)selalu menyampaikan apa yang disampaikannya
(tabligh).
Oleh karena
akhlaknya demikian,seluruh suri teladan yang diberikannya dalam mengamalkan
agama islam dalam berbagai sunah menjadi sumber dan nilai kedua umat islam
sesudah wahyu.”sesungguhnya,pada diri Rasul Allah terdapat suru teladan baik
bagi kamu,”demikian terjemahan firman Tuhan dalam al-Qur’an surah al-ahzab
(33):21.dan karena itu”apa yang di bawanya ikutilah dan apa yang dilarangnya
jauhilah” (Q.s. al-Hasyr (59): 7).suri teladan yang Rasulullah itu mungkin
berupa perkataan (qaul)mungkin juga berupa perbuatan (fi’il) serta pendiaman
(sukut atau taqrir) tanda setuju.semuanya disebut as-sunnah atau hadits,seperti
yang telah disebut di muka.sunnah Nabi Muhammad merupakan sumber
pengetahuanyang monumental bagi umat
islam.sebabnya,karena selain ia merupakan penafsiran otentik dan penjelasan
yang sempurna tentang al-Qur’an,sunnah juga membahas berbagai hal mulai dari
metafisika sampai kepada tata tertib di meja makan (SH Nasr,1981 : 49).
E.KEYAKINAN PADA HARI KIAMAD DAN PERTANGGUNG
JAWABAN MANUSIA DI AKHIRAT
Rukun iman yang kelima
adalah keyakinan pada hari akhirat,keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian
kesatuan rukun iman lainnya,sebab tanpa mempercayai hari akhirat sama halnya
dengan orang yang tidak mempercayai agama islam,walaupun orang yang menyatakan
ia percaya kepada Allah,al-Qur’an dan Nabi Muhammad.menurut Abu A’la Maududi
(Altaf Gauhar,1983 : 13) manusia tidak dilepaskan begitu saja kedunia ini
sebagai binatang yang tidak bertanggung jawab atas segala perbuatannya itu
kepada Allah (kelak).saat memberikan pertanggung jawab,ia bertanggung jawab itu
telah ditentukan oleh Allah,yakni setelah hari kiamad,sesudah kehidupan manusia
di atas bumi ini berakhir dan berganti dengan kehidupan lain.pada waktu itu
kelak semua manusia (juga yang sudah mati) akan di bangkitkan (dihidupkan Tuhan kembali) dan dipanggil
untuk memberikan pertanggung jawaban yang lengkap mengenai segala
perbuatannya,apakah sesuai atau tidak sesuai dengan larangan atau perintah
Allah.
seperti yang telah
disinggung di atas ,seseorang akan menerima segala akibat segalaperbuatan yang
dilakukannya di dunia ini,seperti yang sudah difirmankan Allah dalam surah
at-Taubah (9) ayat 68 kalimat terakhir yang terjemahannya berbunyi “dan Allah
menglaknati (orang-orang munafik=berpura-pura
beriman) dengan (balasan) bagi mereka azab yang kekal.”pengadilan atas
diri manusia di depan Allah Yang Maha
Adil itu,akan berlangsung terbuka dengan segala bukti untuk menjelaskan apa
yang telah di lakukan oleh manusia di dunia di bumi ini,baik secara
sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”dan mereka akan di bawa ke hadapan
Tuhanmu dengan berbaris ..” “Dan diletakkan (di depan mereka),kitab,lalu kamu
akan melihat orang-orang yang bersalah
ketakutan terjadap apa yang (tertulis) di dalamnya,dan mereka berkata...”Kitab
apakah ini yang tidak meniggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang
esar,melainkan mencatat semuanya....”demikian bunyi terjemahan al-Qur’an surah Al-kahfi (18) ayat 48 (permulaan) dan
bagian ayat 49.di dalam proses ini tidak seorang pun dapat memindahkan beban pertangguanjawabnya
kepada orang lain,setiap orang berdiri sendiri dalam mempertanggungjawabkan
perbuatannya dan menantikan keputusan atas dirinya yang berada di dalam
kekuasaan Allah semata-mata.proses pengadilan itu tertumpu kepada pertanyaan :
apakah manusia yang di adili itu tunduk kepada Allah sesuai dengan
ketetapan-Nya yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul yang di utusNya
kepada manusia.jika jawaban terhadap pertanyaan ini positif,seperti yang telah
di sebut juga di atas,manusia akan di tempatkan di sorga,tetapi kalau jawaban
itu negatif,ia akan di masukan ke dalam suatu tempat yang disebut neraka.
Keyakinan kepada hari
akhirat ini membuat manusia terbagi ke dalam tiga kategori .kategori pertama
adalah manusia yang tidak percaya kepada hari akhirat dan memandang kehidupan
di dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan.kategori kedua adalah manusia yang
tidak menyangkal hari akhirat,tetapi bergantung kepada campur tangan atau
bantuan pihak lain untuk mensucikan diri dan menembus dosa-dosanya.kategori
ketiga adalah manusia yang yakin pada hari akhirat sebagaimana diterangkan
dalam ajaran islam.orang yang yakin akan adanya hari akhirat dan yakin pula
bahwa ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatan ayng
dilakukannya,memperoleh pengawasan dalam dirinya setiap saat ia menyimpang dari
jalan yag benar.kesadaran akan adanya pengawasan di dalam dirinya itu membuat
manusia manjadi takwa dan takut kepada Allah walaupun tidak ada orang lain yang
menyaksikan perbuatannya .ia akan melaksanakan kewajibannya dengan jujur dan
tidak suka melakukan perbuatan-perbuatan terlarang.seandainya pun ia
tergelincir pada suatu waktu dan melanggar ketentuan Allah,ia senantiasa siap
untuk bertaubat dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.keyakinan
pada hari akhirat inilah yang mendorong manusia menyesuaikan diri dengan
kerangka nilai abadi yang di tetapkan Allah.keyakinan kepada hari akhirat itu
pulalah yang menolong manusia memperkembangkan kepribadiannya secara sehat dan
mantap,karena itu pula ajaran islam mementingkan benar kayakinan kepada hari
akhirat (Altaf Gaufar, 1983 : 14-15)
F.KEYAKINAN PADA KADA DAN KADAR (TAKDIR)
Keyakinan pada
rukun-rukun iman yang telah dikemukakan di atas tersebut dasarnya dalam al-Qur’an,antara
lain dalam bagian surat al-Baqarah (2)
ayat 285 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “semuanya beriman kepada
Allah,malaikat-malaikatNya,kitab-kitabNya,rasul-rasulNya,,,”setelah berseru
kepada orang-orang beriman agar beriman kepada yang di sebut Q.s. 2 :285 di
atas,pada kalimat kedua Allah memperingatkan orang-orang kafir,dengan rumusan
“barang siapa yang kafir kepada
Allah,malaikat-malaikatNya,kitab-kitabNya,rasul-rasulNya dan hari kemudian,maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya,” dalam Q.s. An-Nisa (4) :138
keyakinan pada qada dan qadar yang
menjadi rukun iman keenam ini berasal dari sunnah nabi,sunnah nabi yang kini
dihimpun dalam kitab-kitab hadist,merupakan bagian integral iman atau keyakina
islam.
Khusus mengenai perkataan
qada dan qadar yang disebut dalam al-Qur’an antara lain dalam surah al-Ahzab
(33) : 36.di dalam sejarah islam,perkataan qada dan qadar yang disebut juga
takdir dalam pembicaraan seahri-hari,pernah menimbulkan salah paham terhadap
ajaran islam,sebabnya,karena perkataan takdir diartikan sebagai sikap pasrah
kepada nasib tanpa usaha atau
ikhtiar.untuk menghilangkan kesalah pahaman tersebut perlu dipahami benar makna
yang dikandung oleh kedua perkataan tersebut.yang dimaksud dengan qada adalah
ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan tentang sesuatu,sedangkan qadar
adalah ukuran suatu menurut hukum tertentu.dapat pula dikatakan bahwa qada
adalah ketentuan atau ketetapan dan qadar adalah ukuran.dengan demikian yang
dimaksud dengan qada dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan
(Allah) menurut ukuran atau norma tertentu.
Dalam meyakini rukun
iman yang keenam ini ada beberapa hal yang perlu di jelaskan,diantaranya yang
terpenting adalah hubungan takdir dengan kehendak bebas atau free will manusia
tersebut di atas.untuk itu perlu dikemukakan pertanyaan berikut : dalam
meyakini takdir Illahi apakah manusia masih mempunyai kehendak bebas dalam
mengatur perbuatannya ? dalm menjawab pertanyaan ini ada 2 teori yang
berbeda.perbedaan itu disebabkan karena perbedaan pendapat mengenai kekuasaan
Tuhan yang mutlak dan keadilan mengenai perbuatan manusia.
Yang menganggap
kekuasaan Tuhan itu mutlak berpendapat bahwa Allah dapat berbuat apa saja,baik
yang kelihatan adil maupun yang tidak adil oleh manusia (teori pertama).menurut
pandangan ini,manusia adalah alat Tuhan yang tidak mempunyai kebebasan dalam
mengatur nasibnya.teori ini yang terkemal sebagai fatalisme (ajaran atau faham
bahwa manusia dikuasai oleh nasib) telah menyebabkan islam dilecehkan sebagai
agama fatalistis (ajaran yang pemeluknya percaya atau menyerah saja pada
nasib).menurut Mahmud Syaltut berpendapat,pendapat di atas adalah
salah-sesalahnya,karena islam mengakui peranan manusia dalam mengatur
perbuatan-perbuatannya.
Pendapat Mahmud Syaltut
ini sejalan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia bertanggung
jawab ats perbuatan-perbuatannya (teori kedua) dengan akal yang ada
padanya,manusia dapat menentukan pilihannya,dengan kehendak bebas (free will)
yang ada padanya,manusia menjadi pembuat nasibnya sendiri.ini jelas dalam ayat
yang mengatakan bahwa “ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,sebelum kaum
itu sendiri mengubahnasib mereka” (Q.s. ar-Ra’du (13) : 11).perkataan suatu
kaum dalam ayat di atas dapat di ganti dengan seseorang.oleh karena itu,apa
yang disebut nasib,sesungguhnya,tidaklah lain dari berikutnya hukum sebab
akibat dalam kehidupan manusia (secara orang).
Menurut al-Qur’an,demikian
Mahmud Syaltut,manusia bebas memilih perbuatan yang akan dilakukannya.ia bebas
pula menetukan kepercayaan yang dianutnya dan dia akan memperoleh sesuatu baik
hukuman atau pun pahala sesuai dengan pilihannya itu.Allah hanya menunjukan
jalan yang seyogyanya di ikuti oleh manusia,oleh karena itu manusia harus mengerjakan penyelamatan dirinya dan
penyelamatan ini hanya dapat dalam beriman dan beramal saleh.beramal saleh
berarti berbuat sesuatu yang baik yang bermanfaat bagi diri sendiri,orang lain
dan masyarakat.di dalam al-Qur’an perkataan iman selalu di ikuti dengan
perkataan amal saleh sebagai syarat bagi manusia untuk memasuki surga yang
telah disediakan Allah untuknya.
Untuk memahami
takdir,manusia harus hidup dengan ikhtiar,sebab dalam kehidupan sehari-harinya
hanya takdir Illahi berkaitan erat dengan usaha manusia.usaha manusia haruslah
maksimal,( sebanyak-banyaknya)dan optimal (sebaik-baiknya) diiringi dengan doa
dan tawakkal.tawakkal yang dimaksud adalah tawakkal dalam makna menyerahkan
nasib dan kesudahan usaha kita kepada Allah,sementara kita terus berikhtiar
serta yakin bahwa penentuan terakhir segala-galanya berada dalam keputusan
Allah.inilah makna takdir yang sebenarnya,yang berlangsung melalui proses usaha
( ikhtiar ), doa dan tawakkal.